Face Of Indonesia

Mohon untuk Login
Bagi Yang Belum Punya Id Klik Register

ADMIN = gedeagas

Co-Admin = antonius03,superdong
Salam

Admin Face Of Indonesia
Face Of Indonesia

Larages indonesian Hig tec Comunity

Login

Lupa password?

facebook like

Cuaca

bloguez.com

Latest topics

» Apakah Forum ini Bagus
Wed Jun 22, 2011 11:35 am by WilmanMx

» Dampak Nuklir Jepang
Wed Jun 22, 2011 11:33 am by WilmanMx

»  ....... TEST IQ SEDERHANA ............... (Ngaku pintar masuk lu !!!)
Sun Jun 05, 2011 10:06 pm by Tamu

» Cheat Ninja saga
Tue May 17, 2011 9:46 am by gedeagas

» ✦ ✦ ✦ Baju Karate Murah ✦ ✦ ✦
Sun May 15, 2011 9:01 pm by kakaslank

» Trans TV dan Trans 7 boikot panasonic Gobel Awards ke-14
Sun May 15, 2011 7:10 pm by gedeagas

» Sekilas Mengenai BlackBerry®
Sun May 15, 2011 7:00 pm by gedeagas

» [REVISED]The Lounge's Guidelines - You Ought To Read This First!
Sun May 15, 2011 6:47 pm by gedeagas

» Pirates of The Caribbean 4: The Fountain of Youth (review)
Sun May 15, 2011 12:49 pm by gedeagas

Kamus Forum

Kamus

Navigation

User Yang Sedang Online

Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada


[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 17 pada Thu Mar 31, 2011 2:59 pm

RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 

    ♣ Selamat Hari Penerbangan Nasional ♣

    Share
    avatar
    gedeagas
    Admin [GM]
    Admin [GM]

    Jumlah posting : 182
    Points : 2147483635
    Cendol : 10032
    Join date : 24.03.11

    ♣ Selamat Hari Penerbangan Nasional ♣

    Post  gedeagas on Sat Apr 09, 2011 8:19 am

    ♣️ Selamat Hari Penerbangan Nasional ♣️



    Baru sekarang visi itu menjadi kenyataan.Tidak saja ibukota propinsi, tapi juga kota-kota lain di pedalaman sudah tersentuh oleh penerbangan tak langsung dari Jakarta. Ini berkat upaya yang dirintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada rnasa perjuangan yang kini buahnya dapat dinikmati bangsa Indonesia, Perintisan penerbangan sipil Nasional, sejarah mencatat bukan terjadi di Indonesia, justru di luar negeri. Negara dimaksud adalah Burma,sekarang bernama Myanmar. Hari itu, 26 Januari 1949, pesawat Indonesian Airways, maskapai penerbangan Indonesia pertama, lepas landas dari Calcutta (India) menuju Rangoon (Burma) untuk melayani pe*nerbangan carterdan regulerdi Myanmar. Modal utama perintisan berupa pesawat DC-3 versi militer C-47 Dakota, hadiah rakyat Aceh kepada pemerintah. Oleh Direktorat Penerbangan Sipil AURI diberi nomor registrasi RI-001 dan diberi nama "Seulawah" yang berarti "gunung emas". Penamaan ini sebagai penghargaan kepada rakyat Aceh yang menghimpun dana untuk membeli pesawat. Dengan telah memiliki sebuah pesawat angkut RI-001 Seulawah, AURI mulai membukajaringan perhubungan udara antaraYogyakarta-Sumatera hingga ke luar negeri. Sebelum Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Adi Sucipto) diserang pesawat dan pasukan payung kemudian diduduki Belanda 19 Desember 1948, RI-001 sudah mendapat izin resmi mendarat di sejumlah negara sahabat. Yaitu Filipina dengan restriksi, Burma, India dan Pakistan. Bahkan mendapat izin mendarat pula di Afghanistan, negara-negara Arab dan Australia dengan restriksi, namun belum sempat digunakan. Pesawat Dakota yang dibeli seharga 138.000 Strait dollar (mata uang Malaya) waktu itu, yang saksi pembeliannya berlangsung di Rangoon oleh Opsir Udara III Wiweko Soepono (kemudian menjadi Direktur Utama Garuda Indonesian Airways di pengujung dekade 1960). la diutus KASAU Suryadarma untuk itu. Pesawat tiba di Tanah air akhir Oktober 1948 dan ditempatkan diPangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

    Tercatat pada awal penerbangannya di Indonesia 16 November 1948, RI-001 diterbangkan ke Sumatera hingga ke Rangoon kemudian kembali ke Maguwo. Dua hari kemudian, 18 November hingga 26 November, dengan RI-001, Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera. Rute yang ditempuh dari Yogyakarta, Jambi, Payakumbuh, Kutaraja dan kembali ke Maguwo lewat Payakumbuh. Waktu itu Wakil Presiden hanya sampai Payakumbuh saja, sedang RI-001 melanjutkan penerbanganke Kutaraja Aceh untuk diperlihatkan langsung kepada masyarakat Aceh sebagai penyumbang. Pesawat disambut meriah oleh masyarakat. Kemudian sejumlah pemuka masyarakat Aceh joy flight dengan "Seulawah". Dalam log book-nya tercatat pada 29 November pesawat digunakan untuk pemotretan udara Gunung Merapi yang tengah menunjukkan tanda-tanda akan memuntahkan laharnya.Tanggal 1 Desember, "Seulawah" lepas landas dari Maguwo menuju Pangkalan Udara Piobang Payakumbuh, membawa sejumlah pegawai pemerintah dan anggota AURI untuk memperkuat pemerintahan dan perjuangan di Sumatera.


    Menjelang 100 jam terbangnya, RI-001 pada 4 Desember dari Payakumbuh melanjutkan penerbangan ke Kutaraja. Setelah menambah 1 awak, pesawat meneruskan penerbangan pada 6 Desember ke Calcutta, India untuk menjalani perawatan periodik 100 jam dan memasang long range tank. Sewaktu menjalani pe*rawatan periodik inilah, terjadi serangan Belanda di Maguwo. Dakota RI-001 mau tidak mau tidak dapat kembali ke Tanah Air dan tertahan di Calcutta. Biaya bagi awaknya terus bergulir disamping kewajiban melunasi pembayaran pembelian pesawat C-47 "Seulawah." Pesawat baru dibayar separuh sebab dana yang diterima Wiweko Soepono dari Moetalib, pengusaha merangkap perantara pencairan dana wesel Strait dollar 120.000 dari Residen Aceh, hanya separuh. Yaitu 60.000 Strait dollar digiinakan untuk membayar kapal. Dua alternatif muncul di benak Wiweko untuk melunasi pembelian pesawat. Pertama mendirikan perusahaan penerbangan atau menjual kembali pesawat. Hasil penjualan dipakai untuk melunasi pembayaran C-47. Siasanya digunakan untuk membiayai pendidikan calon penerbang AURI di India.

    Untuk mengembalikan dana pinjaman tidak ada alternatif lain kecuali mendirikan perusahaan penerbangan. Wiweko menyampaikan gagasannya kepada Opsir Udara III Soedaryono yang memimpin 20 kadet calon penerbang AURI di India dan Opsir Udara III SoetardjoSigitsebagai kopilot pesawat RI-001. Ide ini mendapat dukungan dari Kepala Perwakilan Rl di India, Dr. Soedarsono. Sejak itulah dirintis pendirian maskapai penerbangan nasional Rl di India. Sayang, permohonan tidak dapat dipenuhi Pemerintah India, karena disana telah berdiri dan beroperasi perusahaan penerbangan Indian National Airways.Kesempatan itu datang dari Burma setelah rencana tersebut disampaikan kepada Maryunani, KepalaPerwakilan Rli di Burma. Pemerintah Burma yang sedang butuh jasa angkutan udara untuk menghadapi pemberontakan dalam negeri, memberikan izin pendirian dan pengoperasian penerbangan. Izin keluar bertepatan Dakota RI-001 selesai menjalani perawatan di Calcutta pada 20 Januari 1949. Enam hari kemudian, 26 Januari, dengan badan pesawat bertuliskan Indonesian Airways, RI-001 "Seulawah" diawaki J.H. Maupin (Captain Pilot), Kopilot Soetardjo Sigit dan Soedaryono, Radio Operator Soemarno dan Engineer Ceasselberry dan Wiweko sebagai General Manager, lepas landas dari Calcutta menuju Rangoon, Burma.


    Pada hari itu Indonesian Airways membuka lembar pertama sejarah penerbangan sipil Indonesia, meski di luar negeri. Di Burma kala itu beroperasi Union of Burma Airways, Phlippines Airways dan Siamese Airways. Tetapi tidak berani mengambil risiko melakukan penerbangan untuk kepentingan militer Burma. Hanya Indonesian Airways secara spontan berani menerima tugas tersebut, meski harus menghadapi risiko penerbangan sangat berbahaya dan bahkan bisa fatal.Soetardjo Sigit dan Soedaryono masing-masing merangkap Manajer Operasi dan Manajer Administrasi, sedang Soemarno Kepala Komunikasi dalam susunan manajemen Indonesian Airways. Kantor sementara di 30 Thamwe Road, merupakan rumah tinggal Maryunani sekaligus bagi Wiweko, Soedaryono, Soetadjo Sigit dan Soemarno.Dari hasil penerbangannya Indonesian Airways berhasil melunasi pinjaman Perwakilan Rl di India untuk pembelian pesawat RI-001. "tidak saja ini.pendapatan nya bisa disisihkan untuk membantu dana bagi Perwakilan Rl di India dan Burma, membiayai 20 kadet AURI yang sedang belajar terbang di India dan dua anggota AURI yang bertugas belajardi FEATI Filipina, antara lain Nurtanio.





    Armadanya kemudian berkembang menjadi tiga Dakota. RI-007 (disumbangkan kepada pemerintah Burma sebagai tanda terima kasih pemerintah dan rakyat Indonesia dan RI-001 indonesian Airways dipanggil kembali ke Tanah Air Agustus 1950) dan RI-009 yang memungkinkan Indonesian Airways menyinggahi semua lapangan udara di Burma. Baru setelah pemberontakan berhasil diatasi pemerintah Burma, Indonesian Airways diberi kesempatan melakukan penerbangan komersial biasa dan mendapat tempat mendalam di hati rakyat Burma. Dalam kiprah penerbangan komersial di Burma ersebut, sempat RI-001 berhasil menerobos barikade udara Belanda, terbang dari Mingladon ke Blang Bintang, Aceh. Operasi penerbangan bantuan senjata, amunisi dan peralatan komunikasi . 8 juni1948 tersebut langsung dipimpin Wiweko, dengan Captain Pilot J.H. Maupin, Kopilot Kadet udara Boediarto Iskak, flight operator Soemarno dan engineer Casselberry. Pendaratan malam hari menerobos blokade udara Belanda di Blang Bintang dibantu lampu-lampu mobil yang dinyalakan pada sisi kanan dan kiri landasan. Setelah mendarat RI-001 langsung disembunyikan di bawah pohon karet dan segera barang yang di diturunkan. Berupa 150 senjata laras panjang, enam senapan mesin buatan Inggris termasuk laras cadangannya, sejumlah amunisi, peralatan radio komunikasi dan transmisi serta obat-obatan. Begitu fajar menyingsing di ufuk timur, pesawat telah lepas landas kembali menuju Mingladon Airport.





    Sejarah mencatat pada waktu Pemerintah Rl tengah mempersiapkan delegasi ke KMB di Den Haag, Belanda, Wiweko mengusulkan kepada Ir. Djuanda melalui suratnya kepada KSAU Suryadarma dari Rangoon 25 Juli 1949, agar delegasi Indonesia juga membela Indonesian Airways. Ditulis Wiweko, "... yang perlu diperhatikan, Indonesian Airways harus mempunyai kemerdekaan melakukan inter-nasional dan internal flight atau penerbangan domestik." Hal itu diusulkan sebab dia memperoleh informasi bahwa Djuanda hanya memperjuangkan untuk internal flights. Hal ini mungkin karena ketidaktahuan bahwa Indonesian Airways telah melakukan beberapa kali penerbangan internasional. Diantaranya Rangoon-New Delhi-Rangoon dua kali. Rangoon-Hongkong-Rangoon, termasuk untuk mengambil dua mesin cadangan pesawat. Salah satu kententuan dalam Perjanjian KMB, disepakati perusahaan penerbangan Belanda, KLM Interinsulair terus melaksanakan penerbangan sipil di Indonesia dalam bentuk perusahaan patungan RIS (Republik Indonesia Serikat) dengan KLM (Belanda). Disepakati bahwa seluruh personel manajemen berasal dari KLM, suatu politik penerbangan yang bertentangan dengan konsep kedaulatan udara yang diusulkan. diyakini bahwa perhubungan udara yang diselenggarakan perusahaan patungan RIS-KLM tidak akan mampu dan bersedia memenuhi kebutuhan angkutan udara di seluruh wilayah Indonesia yang sangat luas.


    Biasakan


    _________________
    Very Happy Very Happy Very Happy


    Tertanda Momod Atau Hansip


      Waktu sekarang Wed Sep 27, 2017 4:39 am